Amalan Penghapus Dosa

Amalan Penghapus Dosa Yang Terdiri dari Dosa Kecil dan Dosa Besar

Jumhur ulama` berpendapat bahwa perbuatan maksiat dan perbuatan dosa itu terdiri dari dosa-dosa kecil dan dosa-dosa besar, berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur`an dan Al-Hadits antara lain:

amalan-penghapus-dosa

amalan-penghapus-dosa

Allah SWT berfirman:

إِنْ تَجْتَنِبُوْا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ … الآية (سورة النساء 31)

Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yaitu apa-apa yang kalian dilarang darinya niscaya Kami (Allah) akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian.

وَالَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبَائِرَ اْلإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوْا هُمْ يَغْفِرُوْنَ (سورة الشورى 37

Dan orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan yang keji dan ketika mereka marah maka mereka memaafkan.

الَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبَائِرَ اْلإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلاَّ اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ … الآية (سورة النجم 32

Orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan yang keji kecuali kesalahan-kesalahan kecil, sesungguhnya Tuhanmu itu Maha Luas pengampunan-Nya.

Dan sabda Rasulullah SAW dalam beberapa hadits:

سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ ? قَالَ ذَكَرَ رَسُوْلُ اللهِ ? الْكَبَائِرَ أَوْ سُئِلَ عَنِ الْكَبَائِرِ فَقَالَ الشِّرْكُ بِاللهِ وَقَتْلُ النَّفْسِ وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ فَقَالَ أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ قَالَ قَوْلُ الزُّوْرِ أَوْ قَالَ شَهَادَةُ الزُّوْرِ قَالَ شُعْبَةُ وَأَكْثَرُ ظَنِّي أَنَّهُ قَالَ شَهَادَةُ الزُّوْرِ (رواه البخاري

Aku (Ubaidillah ibnu Abi Bakr) mendengar, Anas bin Malik berkata: Rasulullah SAW menyebutkan dosa-dosa besar atau ditanya tentang dosa-dosa besar maka Beliau bersabda, “(yaitu) Syirik kepada Allah, membunuh seseorang, menyakiti kedua orang tua.” Lantas Beliau bersabda, “Apakah aku tidak memberitahukan kepada kalian tentang sebesar-besar dosa besar?” Beliau bersabda, “(ialah) Ucapan dusta.” Atau Beliau bersabda, “(ialah) “Persaksian palsu.” Syu’bah berkata: sebesar-besar persangkaanku Beliau bersabda, “(ialah) Persaksian palsu.”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ? كَانَ يَقُوْلُ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ (رواه مسلم

Dari Abu Huraiah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Shalat lima waktu, jum’at yang satu sampai jum’at berikutnya, dan ramadlan yang satu sampai ramadlan yang lain; adalah sebagai penghapus bagi dosa-dosa yang ada diantaranya selama tidak melakukan dosa-dosa besar.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو ? قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ? إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ، قِيلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يَلْعَنُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ ؟ قَالَ يَسُبُّ الرَّجُلُ أَبَا الرَّجُلِ، فَيَسُبُّ أَبَاهُ، وَيَسُبُّ أُمَّهُ (رواه البخاري

Dari Abdillah bin Amr dia berkata, Rasulullah SAW telah bersabda, “Termasuk sebesar-besar dosa yang paling besar ialah orang yang melaknat kedua orang tuanya.” Dikatakan, “Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang melaknat kedua orang tuanya?” Beliau menjawab, “(yaitu) Seorang laki-laki mencaci maki ayah orang lain maka orang lain itu mencaci ayah dan ibunya.”

عَنْ نُعَيْمٍ الْمُجْمِرِ أَنَّ صُهَيْبًا مَوْلَى الْعُتْوَارِيِّيْنَ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ وَأَبَا سَعِيْدٍ الْخُدْرِيَّ يُخْبِرَانِ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ? أَنَّهُ جَلَسَ عَلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ،  ثُمَّ سَكَتَ فَأَكَبَّ كُلُّ رَجُلٍ مِنَّا يَبْكِي حُزْنًا لِيَمِيْنِ رَسُوْلِ اللهِ ? ثُمَّ قَالَ مَا مِنْ عَبْدٍ يُؤَدِّي الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ وَيَصُوْمُ رَمَضَانَ وَيَجْتَنِبُ الْكَبَائِرَ السَّبْعَ إِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى إِنَّهَا لَتَصْطَفِقُ ثُمَّ تَلاَ {إِنْ تَجْتَنِبُوْا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ}[النساء : 31] (رواه ابن حبان في صحيحه

Dari Nu’aim al-Mujmir, Shuhaib bekas budak orang-orang ‘Utwari telah bercerita kepadanya bahwa sesungguhnya dia telah mendengar Abu Hurairah dan Abu Sa’id al Khudry bercerita dari Rasulullah SAW, bahwa Beliau duduk di atas mimbar kemudian beliau bersabda, “Demi Dzat yang diriku dalam tangan-Nya.” (3 kali) Kemudian Beliau diam maka masing-masing dari antara kita tertelungkup menangis sedih karena sumpah Rasulullah SAW, kemudian Beliau bersabda, “Tidak seorang hamba pun yang menunaikan shalat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadlan dan menjauhkan diri dari tujuh dosa-dosa besar kecuali dibukakan baginya delapan pintu surga pada hari kiamat hingga sesungguhnya ia bergoyang, kemudian beliau membaca   [إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ]

(Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yaitu apa-apa yang kalian dilarang darinya niscaya Kami menghapus kesalahan-kesalahan dari kalian.)”

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ ? قَالَ شَفَاعَتِي لأَهْلِ الْكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِي (رواه أبو داود، صحيح

Dari Anas bin Malik, dari Nabi SAW, Beliau bersabda, “Syafa’atku untuk umatku yang melakukan dosa-dosa besar.”

Akan tetapi para ahli ilmu berbeda pendapat tentang hakekat “dosa besar” dan dibawah ini sebagian pendapat mereka:

Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa dosa besar adalah dosa yang pelakunya secara khusus diancam dengan ancaman yang berat dengan nash Al-Qur`an maupun as-sunnah an-nabawiyah. Ibnu Abas berkata: dosa besar ialah tiap-tiap dosa yang (balasannya) ditetapkan oleh Allah dengan neraka atau kemurkaan atau laknat atau siksaan. (Tafsir al-Qurthuby juz 5 hal 159)

Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa dosa besar adalah tiap dosa yang pelakunya dikenakan hukum had. Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa dosa besar adalah segala-sesuatu yang diharamkan karena dzatnya, dilarang karena makna dalam dirinya dan jika dikerjakan berdasarkan satu arah maka akan mengumpulkan dua atau beberapa arah dari keharaman yang keji, maka perbuatan zina itu dosa besar, dan seseorang berzina dengan istri tetangganya adalah perbuatan keji.

Al Wahidy seorang ahli tafsir telah berkata: Yang benar, sesungguhnya dosa besar itu tidak ada batasan tertentu yang bisa diketahui oleh seorang hamba Allah. Jika tidak begitu niscaya manusia akan meremehkan dosa-dosa kecil dan memperbolehkannya, akan tetapi Allah ‘Azza wa-Jalla telah menyamarkannya dari hamba-Nya agar mereka bersungguh-sungguh menjauhinya dengan harapan bisa menjauhi dosa-dosa besar. Perbandingannya seperti Allah menyamarkan tentang “ash-shalat al-wustha, lailatul-qadar, waktu-waktu mustajabah dll”. (al-Zawajir ‘aniqtirafil-kabair juz 1 hal 16)

Incoming search terms:

amalan penghapus dosa zina,Amalan penghapus dosa besar,Amalam penghapus dosa,penghapus dosa zina kecil,Penghapus dosa besar,pengahpus dosa besar dan kecil,menghapus dosa zina,menghapus dosa dusta,bagaimana menghapus dosa zina kecil,amalan2 penghapus dosa2 besar

Speak Your Mind

*