Dakwah Toleran

Secara toerotis, setiap agama bertujuan untuk menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat. Setiapa umat wajib menyampaikan pesan agama kepada pemeluknya agar mereka taat terhadap agama yang di peluknya, tetapi bukan berarti, kita harus memaksakan agar orang lain ikut kepada kita. Demokratisasi dalam agama harus di bangun untuk menjaga etika kehidupan masarakat yang secara riil saling membutuhkan dan saling berhubungan. Dengan demikian, dakwah sebenarnya merupakan kewajiban bagi setiap orang yang beragama.

            Dalam realitas kehidupan , orang yang taat beragama , bahkan juru dakwah seringkali bersifat ekstrem dan dan radikal dalam agama. Label – label agama seringkali digunakan, bahkan seringkali politisasi agama dilakukan hanya untuk mencapai tujuan yang sifatnya temporal. Organisasi keagamaan seharusnya tidak menggunakan label agama dalam berdakwah, terutama dalam kaitanya dengan Negara dan masarakat secara luas, apalagi mempolitisasi agama. Dakwah bernuansa toleran, khususnya kepada agama lain, di dalam Al-Quran Surat An-Nahl 125 , Alloh memberikan pijakan dalam berdakwah.

  1. Di lakukan dengan Hikmah. Artinya dakwah harus dilakukan tanpa kebencian , kedengkian , permusuhan, dan menghancurkan obyek dakwah. Secara etika , umat islam tidak di perkenankan menghancurkan gererja, pure, dan tempat ibadah lainya. Demikian juga, umat islam tidak di perkenankan menyampaikan materi yang nunsanya mengantarkan kebencian dan permusuhan kepada pihak lain. Konsep ini menjadi prilaku Walisongo ketika menyampaikan nilai-nilai Islam. Masjid – masjid banyak yang di bangun berdampingan dengan gereja dan pure. Nuansa yang di kembangkan adalah cinta kasih dan saling membantu. Dalam konteks sekarang, mungkin umat islam acara secara bersama-sama dalam rangka membangun solidaritas dan kemanusiaan untuk mencari titik temu persamaan, bukan memperdebatkan dan mempermasalahkan perbedaan. Di samping itu , umat Islam yang masuk dalam sekat-sekat organisasi perlu bekerjasama dalam rangka membangun hubungan harmonis dan damai.
  2. Di lakukan dengan Mauizah Hasanah. Artinya , dakwah di sampaikan tidak berdasarkan apologi dan apriori. Konsep yang sangat netral dalam agama adalah bahwa setiap agama adalah benar, bukan agama yang di peluknya benar dan agama lain adalah salah atau sesat. Meskipun demikian , keyakinan bahwa agama yang di peluk adalah lebih benar harus di jadikan pegangan. DAkwah dengan mauizah hasanah juga dilakukan dalam hubunganya dengan organisasi keislaman , jangansampai terjadi pengklaiman dalam organisasi.
  3. Di lakukan dengan Mujadalah .  Artinya dakwah dilakukan dengan tindakan yang rasional, dialogis, dan argumentative. Interaksi wacana dan keilmuan perlu dikedepankan agar tidak terjadi taklid buta. Jika perlu , interaksi tersebut multi agama dan organisasi. Pemahaman terhadap agama secara menyeluruh perlu diberikan sesuai kebutuhan mereka.

Tiga konsep dasar di atas akan melahirkan demokratisasi agama dalam pengamalan. Perbedaan dalam memeluk agama di anggap wajar dan merupakan Sunnatulloh. Bahkan merupakan anugrah Alloh. Dengan demikian , tuntunan melaksanakan agama atau ajaran kepada orang lain dalam berdakwah tidak muncul. Lebih dari itu , kompetisi dalam kebaikan menjadi ajang yang harus di lerstarikan , baik dalam satu agama maupun beda agama.

Incoming search terms:

dakwah toleransi,dakwah tentang toleransi

Speak Your Mind

*