Kisah Istri Nabi Musa Dari Kampung Madyan

Kisah Istri Nabi Musa Dari Kampung Madyan

Masih ingatkah kisah seorang pemuda yang ingin melerai dua orang yang sedang berkelahi, tetapi ternyata tanpa sengaja pemuda itu malah membunuh salah satu dari keduanya, yang kebetulan orang yang terbunuh adalah warga Mesir, pengikut setia Fir’aun. Dialah Musa, seorang pemuda Bani Israil yang tumbuh dalam asuhan keluarga Fir’aun sang penguasa Mesir.

kisah-nabi-musa-dan-istrinya

kisah nabi musa dan istrinya

Musa sangat menyesali perbuatannya yang ia sebut sebagai perbuatan setan. Ia pun memohon ampun kapada Tuhan Sang Pencipta alam semesta ini, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena itu ampunilah aku…”. Sejak peristiwa itu Musa menjadi ketakutan dan jiwanya merasa terancam. Apalagi terdengar kabar bahwa beberapa pasukan Mesir berniat akan menyergap dan membunuh Musa.

Akhirnya diam-diam Musa berjalan meninggalkan kota. Dengan hati berdebar-debar Musa terus berjalan dalam keadaan takut dan penuh kewaspadaan. Ia terus bedoa dalam hatinya, “Ya Tuhanku, selamatkan aku dari orang-orang yang lalim”. Kaum itu memang benar-benar orang yang lalim. Mereka ingin menerapkan hukuman mati kepada Musa atas matinya seorang warga Mesir, padahal Musa tidak melakukan selain berusaha memisahkan orang yang berkelahi, tetapi dengan tidak sengaja ia membunuhnya. Semakin jauh Musa berjalan keluar dari kota Mesir, ia tidak membawa bekal apapun melainkan pakaian yang melekat di badannya. Ia langsung saja pergi ketika mendapatkan kabar dari seseorang yang mengingatkannya dari ancaman Fir’aun.

Musa melalui jalan yang tidak biasanya dilalui orang. Sengaja itu ia lakukan untuk menghindari pengejaran dan pelacakan musuh. Ini adalah pertama kalinya ia mengarungi gurun pasir sendirian. Untuk mengusir rasa laparnya Musa memakan daun-daun pohon yang dijumpainya di sepanjang jalan. Ia minum dari air sumur yang ditemukannya di tengah jalan. Sepanjang perjalanan Musa merasa ketakutan jangan-jangan Fir’aun mengirim orang untuk mengejar dan menangkapnya. Sementara ia tak tahu ke arah mana kaki melangkah. Ia hanya pasrah dan selalu berdoa kepada Sang Rabb, “Mudah-mudahan Tuhanku membimbingku ke jalan yang benar”. Setelah beberapa hari berjalan sampailah Musa di suatu desa yang bernama Madyan. Musa beristirahat dengan menyandarkan badannya yang letih dan lapar di sebuah pohon tak jauh dari sumur yang besar tempat orang-orang Madyan biasa mengambil air untuk memberi minum binatang-binatang tunggangan mereka maupun binatang-binatang ternak mereka.

Musa memperhatikan kumpulan penggembala yang akan mengambil air untuk kambing-kambing mereka. Musa pun berniat untuk ikut mengambil air di sumur itu, karena ia tak punya cukup uang untuk membeli makanan dan minuman. Musa berjalan mendekati sumur, akan tetapi sebelum ia sampai, ia mendapati dua orang gadis yang sedang menyendirikan kambing-kambingnya agar jangan tercampur dengan kambing orang lain. Entah mengapa tiba-tiba terlintas di pikiran Musa bahwa kedua gadis itu sedang membutuhkan pertolongan. Musa lupa dengan rasa hausnya, ia berjalan ke arah dua gadis itu. Lalu terjadilah percakapan Musa dengan mereka. Musa bertanya, “Apa yang kalian lakukan di sini?  Apakah kalian membutuhkan bantuan?” Seorang gadis yang paling tua berkata, “Kami menunggu sampai selesainya para penggembala itu mengambil air untuk binatang gembalaan mereka”. Musa bertanya, “Mengapa kalian tidak turut mengambil air sekarang?” Gadis yang paling kecil menjawab, “Kami tidak mampu berdesak-desakan dengan kaum pria”. Musa keheranan karena mengetahui kedua gadis itu menggembala kambing. Seharusnya yang menggembala kambing adalah kaum pria. Ini adalah tugas yang berat dan sangat melelahkan. Musa bertanya, “Mengapa kalian menggembala kambing?”. Masih kata gadis yang paling kecil, “Ayah kami sudah tua, kondisi badan dan kesehatannya tidak memungkinkan lagi untuk keluar dari rumah dan menggembala kambing setiap hari”. Musa berkata, “Baiklah, kalau begitu biar aku yang mengambilkan air untuk kalian”.

Musa berjalan menuju tempat air. Ia melihat para penggembala belum ada yang mengambil air karena sumur masih tertutup batu besar yang tidak dapat digerakkan kecuali oleh sepuluh orang. Musa merangkul dan mengangkat batu itu dari bibir sumur. Otot-otot musa tampak menonjol saat memindahkan batu itu sendirian. Akhirnya musa berhasil mengambilkan air untuk kedua gadis itu, lalu kedua gadis itu pun pulang bersama kambing-kambing mereka. Semntara Musa kembali duduk di bawah pohon. Saat itu musa lupa untuk minum. Perut Musa menempel ke punggungnya karena saking laparnya. Musa berusaha mengingat Sang Rabb yang telah menciptakan dirinya dan alam semesta ini, “Ya Tuhanku, sesunggunya aku sangat membutuhkan barang sedikit makanan yang Engkau turunkan kepadaku”.

Sesampainya kedua gadis itu di rumah. Sang Ayah (yang ternyata adalah Nabi Syu’aib) keheranan, “Hari ini kalian kembali lebih cepat dari biasanya”. Gadis yang paling tua menjelaskan, “Sungguh hari ini kami sangat beruntung. Wahai ayah, kami bertemu dengan seorang pemuda yang baik hati, yang mengambilkan air minum untuk kambing-kambing kita sebelum orang-orang mengambilnya”. Sang Ayah berkata, “Alhamdulillah”. Gadis yang paling kecil berkata, “Wahai ayah, menurutku pemuda itu datang dari tempat yang jauh dan tampak sekali ia sedang lapar”.

Sang Ayah berkata kepada anak gadisnya, “Pergilah engkau padanya dan katakan bahwa aku memanggilnya untuk memberinya upah atas kebaikannya mengambilkan air untukmu”. Kemudian berangkatkah anak gadis itu menemui Musa. Entah kenapa hati si gadis berdebar-debar ketika menatap Musa. Gadis itu berdiri di hadapan Musa dan menyampaikan pesan sang ayah. Musa bangkit dari tempat duduknya dan pandangannya tertunduk ke bawah. Kemuliaan akhlaknya membuat Musa merasa malu menatap wajah gadis itu. Apalagi ia tidak bermaksud mengambilkan air untuk mereka dengan tujuan mengharap upah dari mereka. Dia membantu mereka hanya semata-mata karna Allah, ia merasakan dalam dirinya bahwa Sang Rabb yang telah menggerakkan hatinya untuk membantu mereka.

Akhirnya Musa memenuhi undangan Sang Ayah dan berjalan mengikuti gadis itu. Saat itu bertiuplah angin hingga pakaian gadis itu menempel ketat di tubuh si gadis. Musa menundukkan pandangan matanya karena merasa malu. Lalu Musa berkata kepadanya, “Biarlah aku yang berjalan di depanmu dan tunjukkanlah jalan kepadaku”. Mereka pun sampai di kediaman Nabi Syu’aib. Orang tua itu menghidangkan makanan kepada Musa dan bertanya kepadanya dari mana ia datang lalu hendak kemana ia akan pergi. Musa pun mengungkapkan ceritanya. Kemudian orang tua itu berkata kepadanya, “Jangan khawatir dan jangan takut. Engkau akan selamat dari orang-orang yang lalim. Negeri ini tidak tunduk pada Mesir dan mereka tidak akan sampai disini”. Hati Musa menjadi tenang demi mendengar kata-kata orang tua itu. Setelah selesai makan, Musa berpamitan untuk pergi. Namun salah seorang anak gadis itu berkata kepada ayahnya dengan berbisik, “Wahai ayahku, berilah dia upah. Sesungguhnya engkau memberi upah pada orang yang kuat dan jujur”. Sang Ayah bertanya, “Bagaimana engkau tahu kalau dia seorang laki-laki yang kuat?” Anak gadis menjawab, “Aku lihat sendiri ia mengangkat batu yang tidak mampu diangkat oleh sepuluh orang lelaki”. Sang Ayah bertanya lagi, “Bagaimana engkau mengetahui ia orang yang jujur”. Gadis itu menjawab, “Ia menolak untuk berjalan di belakangku dan ia berjalan di depanku karena ia tidak mau memandang tubuhku saat aku berjalan, dan selama perjalanan saat aku berbincang-bincang dengannya, ia selalu menundukkan matanya ke bawah sebagai rasa malu dan adab yang baik darinya”.

Sebagai ayah sekaligus seorang Nabi, Syu’aib memiliki naluri yang kuat. Dari sorot mata anak gadisnya ketika menceritakan tentang Musa, Sang Ayah menangkap isyarat bahwa anak gadisnya telah jatuh hati kepada Musa. Kemudian Sang Ayah memandangi musa dan berkata padanya, “Wahai musa, aku ingin menikahkanmu dengan salah satu putriku. Dengan syarat engkau bekerja menggembala kambing bersamaku selama delapan tahun. Seandainya engkau menyempurnakan sepuluh tahun itu adalah kemurahan darimu. Aku tidak ingin menyusahkanmu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang shaleh”. Musa pun menerima tawaran Sang Ayah dan berkata, “Ini adalah kesepakatan antara kita dan Allah sebagai saksi atas kesepakatan ini, baiklah aku akan melaksanakan pekerjaan selama delapan tahun atau sepuluh tahun, setelah itu aku bebas untuk pergi kemana saja bersama istriku.

Demikianlah akhirnya Musa menjadi bagian dari keluarga Nabi Syu’aib yang shaleh. Ia hidup bahagia bersama istri yang ia cintai, demikian pula sang istri yang sangat mencintai Musa. Hingga disaat Musa telah menyelesaiakan tugas menggembala kambing selama sepuluh tahun, lalu pergi meninggalkan Madyan dan akhirnya Musa diangkat menjadi Rasul di lembah Thuwa, sang istri tetap setia mendampingi.

Incoming search terms:

istri nabi musa,istri nabi musa bernama,istri nabi musa as,kisah istri nabi musa,istri nabi musa adalah,Istri nabi musa a s,nama istri nabi musa,kisah nabi musa,istri nabi musa siapa,istrinya nabi musa

Speak Your Mind

*