Manusia Seperti Binatang Ternak

Apakah Manusia Seperti Binatang Ternak

Dalam pergaulan sehari – hari, kita sering mengetahui banyak kita orang yang emosi, jika disamakan dengan binatang. Entah itu guyon atau sungguhan, pada dasarnya manusia tidak mau disamakan dengan binatang. Gak level. Beda kelas Bung! Sebab manusia itu sebaik – baik makhluk. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS At-Tiin: 4).

seperti-binatang-ternak

seperti binatang ternak

Sayangnya, banyak orang yang bertingkah macam binatang ini. Lihat beringasnya para pelajar yang tawuran akhir – akhir ini. Sungguh mengkhawatirkan. Wujudnya manusia tetapi tidak berlaku layaknya manusia. Pelaku pembunuhan Deny, pelajar SMA Yayasan Karya 66 (Yake), AD yang saat ini meringkuk ditahanan Polres Jakarta Selatan mengaku puas dengan aksinya. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan(Mendikbud) M Nuh pun kaget dengan jawaban AD tersebut.

“Jadi saya tadi sudah bertemu dengan tersangka. Memang saya agak surprise saya tanya ‘puas mas telah membunuh korban, puas pak’. Siapa yang nggak kaget membunuh orang puas,” ujar M Nuh di Polres Jakarta Selatan.

Ungkapan yang pas untuk itu adalah seperti firman Allah berikut: Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). (QS Al-Furqon: 44)

Kita terasa makin jauh dari unggah-ungguh alias tata krama. Tak kenal lagi rendah hati. Membusungkan dada, meremehkan orang lain, atau mem-prek-kan norma-norma seakan bukan lagi sesuatu yang patut disesali. Seperti ada pergeseran nilai kesantunan. Dan, cara pandang serupa ini merasuki masyarakat perkotaan serta pedesaan. Celakanya, jika ketidakelokan itu dilempangkan, justru dijawab dengan cemoohan atau membuang muka. Siapa tak sakit hati? Tidak berlebihan jika banyak orang bersikap apatis. Lebih baik diam ketimbang sakit hati atau malah jadi korban. Seperti dua pelajar yang tewas kemarin.

Itu semua membuat saya gusar. Ya, seandainya sikap rendah hati tersebut bisa ditularkan kepada banyak orang –dengan menyeru pada hati, jiwa, pikiran yang jernih, tulus, dan jujur– tentu akan punya nilai tambah dalam kehidupan. Keindahan itu, kata orang bijak, tidak bermakna apa-apa tanpa kebaikan dan kebenaran. Sesungguhnya, sikap rendah hati dan menghargai orang lain acap dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Atau memang kita suka mencontoh perilaku binatang. Coba simak bagaimana dengan yang satu ini.

Semua orang kenal anjing. Anjing bisa jadi model. Ia sangat patuh pada majikannya, tak peduli kaya atau miskin. Mendengar apa yang dikatakan. Melakukan apa yang diperintahkan. Kalau majikannya meninggal, misalnya, anjing bisa kehilangan nafsu makan hingga berakhir dengan kematian. Di zaman revolusi dulu, anjing Kakek bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Puasa Senin-Kamis ia jalani. Padahal dia anjing. Begitu beduk magrib berbunyi, barulah makanan itu dinikmati pelan-pelan, dan seakan memberi contoh pada orang-orang yang rakus dan kemaruk.

Pernah, anjing itu menghilang. Begitu muncul, moncongnya menggigit bungkusan. Ternyata, isinya makanan. Kala makanan itu disantap ramai-ramai oleh bulik dan paman kami yang waktu itu kelaparan, sang anjing cuma mengamati seolah mengatakan: ‘’Makanlah!’’ Saat itu, anjing terasa lebih manusiawi ketimbang manusia. Itu yang membuat ia disayang, padahal tanpa carmuk alias cari muka. Makanya, kala anjing itu mati, seluruh isi rumah menangisi. Kesetiaan dan pengabdiannya seolah tak tergantikan oleh siapa pun.

Anjing adalah keturunan serigala. Dulu, 15.000 tahun lampau, anjing mulai dijinakkan untuk partner berburu. Kini fungsinya bertambah; sebagai pengawal, juru selamat, penunggu, dan bahkan berfungsi sebagai pembongkar kejahatan. Anjing St. Bernard di Swiss dipakai menolong orang dari timbunan runtuhan gletser. Tak kurang dari 2.500 wisatawan di Alpen –berketinggian 2.438 meter– yang diselamatkan kawanan hewan ini. Penciuman anjing tajam, tapi kalah jauh dari serigala. Mungkin, karena otak anjing hanya 30% dari volume otak serigala. Sebuah penelitian menyebutkan, di tumpukan kaleng kosong ditaruh satu kaleng berisi daging. Serigala hanya butuh waktu lima menit untuk menemukan daging itu, sedangkan anjing perlu waktu satu jam. Anjing mampu mengenali orang dari sidik jari di botol yang sudah enam minggu di tempat tertutup –di tempat terbuka satu minggu. Anjing juga mampu mengenali bekas ban kendaraan milik tuannya, terutama saat suhu tanah lebih tinggi dari suhu udara, yaitu di pagi atau malam hari.

Nah, melihat kondisi saat ini benar – benar trenyuh. Akankah ini persis seperti yang difirmankan Allah; ”Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS Al-Hajj 46)

Sekarang menjadi tugas kita bersama untuk bisa menjaga panca indera kita berfungsi sebagaimana adanya tidak mati dan layu. Atau bahkan menjadi jalan yang merubah kita menjadi seperti binatang. Jika sudah oke baru kita menyeru kepada sekitar. Gak bosan perintah yang baik dan melarang dari yang mungkar.

Incoming search terms:

Binatang,foto binatang,photo binatang,macam macam binatang,hewan,macam macam gambar binatang,gambar binatang binatang,gambaran binatang,gambar-gambar binatang,binatang-binatang

Speak Your Mind

*