Metodologi Dakwah

 Macam-Macam Metodologi Dakwah

Seorang pendakwah harus sungguh-sungguh dalam memanfaatkan potensi yang ada pada dirinya untuk memahami kenyataan yangmelingkupinya. Seorang dai harus memahami persoalan yang sedangdihadapinya, bukan hanya pada permukaannya tapi sampai ke jantung masalah.Dakwah bil hikmah adalah dakwah dengan menggunakan perkataan yang pastidan benar, yaitu dalil yang menjelaskan kebenaran dan menghilangkan keraguan.Demikian menurut Imam Abdullah bin Ahmad Mahmud An Nasafi.

metode-dakwah-modern

metode-dakwah-modern

Disamping mampu menjelaskan kebenaran dan menghilangkan keraguanatau kesamaran pengetahuan yang mendalam juga akan menghasilkankebijaksanaan. Al hikmah juga diartikan kebijaksanaan, akal budi yang mulyadan menarik perhatian orang kepada agama atau Tuhan.Pada tahap ini kebijaksanaan akan berpengaruh pada ketepatan dalammengolah materi dakwah.

Karena ketepatannya menentukan keberhasilandakwah dan ketidaktepatannya mengaburkan bahkan menimbulkan persepsi yangkeliru atas pesan dakwah bahkan agama itu sendiri. Maka hikmah pula yang padaakhirnya menentukan sikap da’i, apakah harus bicara atau diam.

1. Metode Al Mauidzah bil Hasanah,terkandung dalam QS. Al-Nahl (16) ayat 1

Pengertiannya secara istilah menurut Imam Abdullah bin Ahmad an Nasafi adalah: Al Mauidzatul hasanah adalah perkataan yang tidak tersembunyi bagi mereka, bahwa engkau memberi nasihat dan menghendaki manfaat kepada mereka atau dengan Alquran.Cara dakwah semacam ini dengan memberi nasihat lazim ditemui dalam masyarakat kita, dimana para dai berceramah di mimbar-mimbar, memberi nasihat di depan umat dalam berbagai acara dan dalam banyak kesempatan.

Kisah-kisah yang baik yang diceritakan oleh orang tua kepada anaknya, bimbingan-bimbingan guru di sekolah, prilaku-prilaku yang baik pun termasuk metode ini.Mauidzatul hasanah merupakan salah satu manhaj (metode) dalam dakwah untuk mengajak ke jalan Allah dengan memberikan nasihat atau bimbingan dengan lemah lembut agar mereka mau berbuat baik. Begitu menurutAbdul Hamid al Bilali dalam Fiqh al Dakwah fiingkar al Mungkar

2. Metode Al Mujadalah Bi-al-Lati Hiya Ahsan

Al-Mujàdalah terambil dari kata, yang bermakna diskusi atau perdebatan. Kata jadal (diskusi) terulang sebanyak sembilan kali dengan berbagai bentuknya di beberapa tempat dalam al-Quran.Dari kata-kata itu, yang menunjuk kepada arti diskusi mempunyai tiga obyek,yaitu: membantah karena: (1) menyembunyikan kebenaran,padahal mempunyai ilmu atau ahli kitab, (3) kepentingan pribadi di dunia. Dari berbagai macam obyek dakwah dalam berdiskusi tersebut, akan dititik beratkan pada obyek yang mempunyai ilmu. Berdiskusi dengan obyek semacam ini membutuhkan pemikiran yang tinggi dan wawasan keilmuan yang cukup. Sebab, al-Quran menyuruh manusia dengan istilah ahsan (dengan cara yang terbaik).

Jidal disampaikan dengan ahsan (yang terbaik) menandakan jidal mempunyai tiga macam bentuk,ada yang baik, yang terbaik dan yang buruk.Menurut Dr. Quraisy Shihab bermakna menarik tali dan mengikatnya guna menguatkan sesuatu, maka perdebatan ibarat menarik dengan ucapan untuk meyakinkan lawannya dengan menguatkan pendapatnya melalui argumentasi yang disampaikan.metode ini dilakukan dengan tukar pendapat yang dilakukan oleh dua pihak secara sinergis, yang tidak melahirkan permusuhan dengan tujuan agar lawan menerima pendapat yang diajukan dengan memberikan argumentasi dan bukti yang kuat.

Antara satu dengan lainnya saling menghargai dan menghormati pendapat keduanya berpegang kepada kebenaran, mengakui kebenaran pihak lain dan ikhlas menerima hukuman kebenaran tersebut.Selain pembagian seperti diatas, terdapat pembagian lain seperti yang di kemukakan oleh Dr. Moh. Ali Azizi, M.Ag. menurut beliau Pada garis besarnya, bentuk dakwah ada tiga, yaitu: dakwah lisan (dawah bi al-lisan), dakwah dengan tulisan ( dawah bi al-qalam ), dan dakwah dengan tindakan ( dawah bi al-hal).

Berdasarkan ketiga bentuk dakwah tersebut maka metode dakwah dapat  diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Metode Ceramah, Metode ceramah atau muhadlarah atau pidato merupakan cara yang telah dipakai oleh semua Rasul Allah dalam menyampaikan ajaran-Nya. Sampai sekarangpun metode ini paling sering digunakan oleh pendakwah sekalipun alat komunikasi modern telah tersedia. Umumnya, ceramah diarahkan kepada sebuah publik ( public speaking), lebih dari seorang. Sifat komunikasinya lebih banyak searah(monolog) dari pendakwah kepada audiensi. Pesan-pesan dakwah yang disampaikan dengan ceramah bersifat ringan, informatif, dan tidak mengundang perdebatan. Dialog yang dilakukan juga terbatas pada pertanyaan,bukan sanggahan.

2. Metode Diskusi , ini dimaksudkan untuk bertukar pikiran tentang suatu keagamaan sebagai pesan dakwah antar beberapa orang dalam tempat tertentu.Dibandingkan dengan metode lainnya, metode diskusi memiliki kelebihan-kelebihan antara lain:

a.Suasana dakwah akan tampak hidup, sebab semua peserta ikut mencurahkan perhatiannya kepada masalah yang sedang didiskusikan.

b.Dapat menghilangkan sifat-sifat individualistis dan diharapkan akan menimbulkan sifat-sifat yang positif pada mitra dakwah seperti toleransi,demokrasi, berpikir sistematis dan logis.

c.Materi akan dipahami secara mendalam.

3. Metode Konseling.

4. Metode Karya Tulis.

5. Metode Pemberdayaan Masyarakat.

6. Metode Kelembagaan.

Metodologi dakwah merupakan salah satu unsur yang perlu di pelajari seorang dai dalam berdakwah agar menjadi lebih tepat dan efisen dalam mencapai tujuan dakwah.Hal ini disebabkan keanekaragaman objek dakwah yang menuntut variasi cara dan metode yang efektif dan efisien.

Incoming search terms:

metodologi dakwah

Speak Your Mind

*