Perempuan Islam sebagai Aset Pembangunan Bangsa

Perempuan Islam sebagai Aset Pembangunan Bangsa

Demikian pula, dalam kesehariannya berinteraksi dengan para isteri, beliau kadangkala menyelipkan perilaku romantis. Keadaan ini merupakan penyeimbang dalam kehidupan rumah tangga Rasul SAW yang penuh dengan perjuangan serta membutuhkan ketegaran dan keberanian para isteri beliau.  Salah satu contohnya, sebagai berikut:
Urwah ibn Zubair mendengar Aisyah berkata:”Nabi mencium pada sebagian isteri-isterinya kemudian keluar menuju sholat dan tidak wudhu lagi”. Urwah ibn Zubair mengomentari dengan mengatakan bahwa yang dimaksud ‘sebagian isteri’ oleh Aisyah adalah dirinya sendiri. Mendengar ini, Aisyah tertawa.   (HR Ibn Majah)

 

Kepedulian dan kasih sayang Rosul SAW terhadap kaum perempuan pada masa perjuangan Islam, ternyata tidaklah menjadikan mereka (perempuan) lemah dan rapuh. Sebaliknya, kaum perempuan semakin mudah diarahkan dan dinasihati sehingga bermunculanlah perempuan-perempuan tegar dan kokoh dalam membela fisabilillah dan mendukung kaum lelaki dalam memperjuangkan agama Islam.  Dengan demikian potensi mereka (perempuan) bisa dikontribusikan bagi pertumbuhan dan perkembangan masyarakat Islam.

Sebagai panutan sejati, Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid berhasil memberdayakan diri sebagai seorang isteri, sebagai ibu bagi anak-anaknya serta menjadi pengusaha sukses yang tetap mampu menyeimbangkan dirinya sebagai isteri Rasulullah.  Khadijah binti Khuwailid  adalah istri pertama, yang dinikahi oleh pemuda Muhammad di usianya ke 25. Pada saat itu Khadijah adalah janda berusia 40 tahun. Khadijah berperan besar pada masa-masa awal penyebaran Islam.  Khadijah wafat 2 tahun sebelum Rasulullah SAW hijrah, dalam usia 65 tahun.  Tepat di usia 40 tahun, Muhammad bin Abdullah, menerima tugas kenabian yang harus disampaikan ke seluruh umat manusia. Rasulullah SAW sendiri pada awalnya sempat ragu, apakah benar yang diterima adalah wahyu, dan apakah juga merupakan pengangkatan sebagai Nabi (yang menerima wahyu) dan Rasul (yang diutus menyampaikan misi). Dengan penuh kelembutan Khadijah menentramkan, menguatkan dan memastikan bahwa yang diterima benar wahyu dan beliau benar-benar diangkat menjadi Nabi dan Rasul.

Dialog menyentuh antara Nabi Muhammad SAW dan Khadijah RA bisa digambarkan dibawah ini. Nabi Muhammad SAW  berkata pada Khadijah RA: “Wahai Khadijah, tidak ada sesuatu yang paling aku benci kecuali berhala dan para peramal itu, aku khawatir aku akan diangkat menjadi peramal”. “Tidak”, kata Khadijah. “Demi Allah, Dia tidak akan menghinamu, karena kamu adalah orang yang baik terhadap keluarga, suka menjamu tamu, berani mengambil tanggung jawab besar, memberi orang yang kekurangan, dan membantu orang-orang kesusahan. Kamu memiliki banyak sifat-sifat yang baik, yang dengan itu, kamu sama sekali tidak akan didatangi setan”, sambung Khadijah. (HR Imam Bukhari, Kitab Nikâh).

Terlihat sekali bagaimana  kecintaan Khadijah pada Nabi Muhammad SAW  serta integritas-nya terhadap ummat. Dalam hal ini, beliau  juga berperan sebagai motivator Rasul untuk  bertanggung jawab terhadap penyampaian kepada ummat.  Sebagai seorang pengusaha, Khadijah juga berhasil membangun bisnis yang sukses dan menggunakan sebagian besar hartanya untuk perjuangan agama. Sehingga suatu ketika Nabi terkenang wanita yang sangat dicintainya itu, beliau bersabda:
“Demi Allah, tidak ada ganti yang lebih baik dari dia, yang beriman saat semua orang ingkar, yang percaya kepadaku saat semua pihak mendustakan, yang mengorbankan hartanya saat semua berusaha mempertahankannya, dan daripadanyalah aku mendapatkan keturunan.”  (HR Bukhori, Kitabul Badaikholqi)

Sedangkan Aisyah binti Abu Bakr as Siddiq adalah tipe wanita cerdas yang visioner dan berwawasan ilmu. Beliau lahir 2 tahun sebelum kerasulan. Pernikahannya dengan Rasulullah saw tidak menghasilkan keturunan. Ia banyak mendengar Al Qur’an dan hadits langsung dari Rasulullah SAW. Melalui Aisyah umat Islam mengetahui bagaimana Rasulullah SAW menjalankan kewajibannya sebagai suami, sampai hal-hal yang sangat pribadi yang patut diketahui umat Islam untuk diteladani.  Hampir seluruh ajaran Islam tentang wanita disandarkan pada Aisyah.  Aisyah banyak mengetahui hukum-hukum dan ilmu fara’id (hukum pembagian harta waris) yang rumit.
Darinya para ulama menerima 2.210 hadis, termasuk hadits-hadits pergaulan suami-istri yang tidak akan diterima dari perawi lain.  Beliaulah yang mendampingi Rasulullah memimpin sebuah negara besar (Madinah).  Aisyah mampu memdampingi Rasulullah dalam memberikan kontribusi ajaran Islam dalam hal keperempuanan, sambil tetap bisa melayani Rasulullah di rumah serta mempersiapkan segala sesuatu yang mendukung Rasulullah sebagai pemimpin politik dan agama. Aisyah wafat pada tahun 47 atau 48 H.

Dukungan dan pengertian Rasulullah SAW terhadap isteri-isterinya melalui kasih sayang dan penghargaan, diikuti pula dengan sikap penuh perhatian dan kepedulian terhadap kaum perempuan pada masa itu. Bukan tidak mungkin bahwa kondisi yang diciptakan oleh Rasul menjadi dorongan semangat perempuan dalam melakukan perubahan sosial yang signifikan, dari kaum marjinal menjadi kontributor dalam menegakkan Islam di muka bumi.  Keteladanan dari Rasul SAW inilah yang patut diikuti oleh kaum laki-laki masa kini. Dibarengi semangat kaum perempuan menggali potensi diri dan memanfaatkannya bagi kepentingan keluarga dan masyarakat, serta tetap menjunjung tinggi harkat dan martabatnya sebagai perempuan Islam, maka akan tercipta sinergi menuju optimalisasi pembangunan bangsa.
Oleh : Ir. Sri Tresnahati Ashar  MSi.
Dept. Pemberdayaan Wanita & Kesejahteraan Keluarga DPP LDII

Speak Your Mind

*